Hati-hati Jebakan Stock Split!
Mei 12, 2025 • Corporate Action Info BEI Pasar Saham Saham Stock SplitBaru mendengar rencana stock split saja, biasanya trader sudah bersemangat. Pun setelah stock split, masih banyak trader yang berseru, “saham ini habis stock split lho!”. Memang semenarik itu ya! Apalagi jika itu saham populer yang dividennya besar. Harganya jadi lebih terjangkau, serasa membeli di harga diskon. Padahal?
Mitosnya, setelah stock split harga saham akan naik. Faktanya, belum tentu. Lihat saja UNVR, setelah stock split harganya malah tergerus. Juga HOKI, PPRO hingga ERAA yang sama anjloknya. Atau BBCA, PBID, SMDR dan INDS yang harganya melonjak signifikan justru saat menjelang stock split, sehingga setelah stock split harganya turun menuju ke nilai wajarnya. Di bawah ini beberapa hal yang perlu dipahami agar trader tidak masuk jebakan stock split.
Pengertian Stock Split
Stock split atau pemecahan nilai saham merupakan tindakan korporasi yang memecah nominal nilai saham sesuai rasio tertentu. Sebagai contoh, ISAT berencana stock split pada Oktober 2024, dengan rasio 1:4. Artinya, per 1 lembar saham akan dipecah menjadi 4 lembar. Setiap pemegang saham ISAT akan mendapatkan 4 kali jumlah saham yang dimilikinya, dengan nilai total investasi yang sama.
Adapun harga akan menjadi lebih rendah dari harga semula, sesuai dengan rasionya. Misalkan harga saham ISAT saat penutupan cum date stock split adalah Rp10.000, maka pada saat trade date stock split harga pembukaannya menjadi Rp2.500 per lembar, atau ¼ dari harga sebelumnya. Harganya menjadi lebih terjangkau, dengan harapan meningkatkan daya beli investor dan mendorong transaksi lebih aktif.
Stock split tidak mengubah fundamental perusahaan
Aksi stock split semata-mata memecah lembar saham saja, sehingga jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak. Tidak ada fundamental yang berubah karena stock split tidak mempengaruhi modal maupun arus kas perusahaan. Juga tidak mengubah nilai emiten berdasarkan kapitalisasi pasar. Hal ini dikarenakan ketika jumlah saham bertambah, harga per lembar saham akan tetap disesuaikan sehingga market cap tetap sama.
Sebagai contoh SMDR yang stock split akhir Januari 2023 dengan rasio 1:5. Jumlah saham beredar sebelum stock split sebanyak 3.275.120.000 lembar di harga penutupan Rp2.260, dan setelah stock split menjadi 16.375.600.000 lembar di harga pembukaan Rp452. Market cap yang dihasilkan tetap sama, yaitu sebesar Rp7,4 Triliun.
Jadi, sekalipun kita mendapatkan lebih banyak lembar saham dengan harga yang lebih rendah, namun nilai investasi bersih yang kita miliki terhadap saham tersebut pun tetaplah sama.
Total Dividen sama, tidak berubah
Karena tidak ada arus kas masuk ke perusahaan, tidak ada tambahan laba perusahaan, maka stock split juga tidak menyebabkan penambahan maupun pengurangan dividen. Baik sebelum maupun setelah stock split, pemegang saham akan menerima total rupiah yang sama dari pembagian dividen.
Yang terlihat berubah yaitu dividen per share (DPS). Dividen per lembar saham (DPS) dihitung berdasarkan total dividen dibagi jumlah lembar saham yang beredar. Dengan bertambahnya lembar saham akibat stock split, maka nilai DPS menjadi lebih kecil dari semula secara proporsional. Sedangkan total dividennya tetap sama.
Harga lebih terjangkau, tapi bukan diskon
Suatu emiten memerlukan stock split untuk meningkatkan likuiditas sahamnya. Stock split membuat saham lebih mudah, lebih cepat dan lebih aktif diperdagangkan. Harga stock split lebih terjangkau, jumlah lembar saham beredarnya pun bertambah banyak. Dampak baiknya tentu memperbaiki daya jual saham tersebut.
Selain itu, stock split juga dilakukan oleh emiten yang kinerjanya meningkat signifikan namun nilai sahamnya sudah mencapai puncak. Sekalipun fundamentalnya bagus, harga saham yang nominalnya terlalu tinggi cenderung tidak likuid, frekuensi perdagangannya sedikit, dan harganya di situ-situ saja.
Dengan dilakukan stock split, besaran harganya memang “terasa” lebih murah dibandingkan harga semula. Namun demikian, ini bukanlah harga diskon, karena perubahan yang terjadi bukan akibat dari koreksi harga. Jadi tidak ada jaminan bahwa setelah stock split harga akan memantul naik, apalagi kembali menuju besaran harga sebelumnya.
Setelah stock split, harga saham bisa menurun karena :
Fundamental dan prospek tidak menarik
Pemegang saham dari institusi akan mempertahankan suatu saham jika prospek dan fundamentalnya menarik. Sebaliknya, jika sudah tidak menarik, mereka akan melepas kepemilikannya terhadap saham tersebut. Momentum stock split, dengan besaran harga yang lebih rendah, memudahkan mereka dalam menjual. Ditambah lagi jumlah lembar saham yang meningkat sesuai rasio stock split, menyebabkan tingkat daya jualnya menjadi terlihat besar dan memancing investor ritel untuk jualan juga. Akibatnya, tekanan jual saham tersebut setelah stock split justru meningkat drastis.
Memang sudah overvalued
Saham yang overvalued adalah saham yang harganya dinilai terlalu tinggi atau terlalu mahal dibandingkan nilai intrinsiknya. Kondisi ini bisa diukur secara fundamental dari nilai PER, PEG dan PBV, yang mana tidak terpengaruh oleh adanya stock split. Justru setelah stock split menjadi waktu terbaik untuk menjual saham yang overvalued karena tingkat likuiditasnya meningkat.
Big fund lebih suka masuk sebelum stock split
Saham stock split menjadi lebih menarik saat didukung oleh fundamental, prospek pertumbuhan bisnis dan tingkat dividen dengan yield yang bagus. Likuiditasnya yang meningkat juga menambah daya tarik bagi investor ritel. Namun bagi pemodal besar, termasuk investor institusi, justru lebih menguntungkan memborong saham yang bagus sebelum stock split terjadi.
Dengan modal yang sama, baik membeli sebelum maupun setelah stock split, dividen yang didapatkan tetap sama. Hanya saja, bagi big fund, misalkan modal Rp1 miliar ke atas, jika membeli setelah stock split, mereka perlu memborong barang dengan jumlah lot yang lebih banyak. Hal itu tentunya menyulitkan, karena akan membuatnya membeli di beberapa lantai harga yang berbeda, sehingga harga rata-ratanya bisa jadi kurang menarik, serta membutuhkan waktu.
Untuk itu, jika saham tersebut memang menarik, big fund atau pemodal besar memilih masuk sebelum stock split agar lebih sederhana dalam transaksinya. Lalu setelah stock split, apakah harganya akan naik atau turun? Jawabannya, kembali ke mekanisme perdagangan secara normal, yaitu tergantung pada permintaan (demand) dan penawaran (supply) atas saham tersebut. Yang pasti, setelah stock split semestinya perdagangan lebih ramai, pembentukan harga lebih aktif dan fluktuatif.
Hati-hati Jebakan Stock Split!
Harga
Subtotal
Belum termasuk ongkos kirim.